50 Tahun, tentunya menyimpan banyak arti, Usia 50 tahun adalah bukti sebuah eksistensi yang patut dibanggakan, keberadaannya sampai saat ini merupakan ikon sebagai lembaga konservasi ex – situ tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia.
Namun kiranya akan lebih bijaksana apabila kita dapat mengartikan lebih jauh dengan merenungkan kembali banyak hal apa saja yang telah diperbuat selama 50 tahun? Kritik , kesan dan pesan dapat kita jadikan refleksi perjalanan selama 50 tahun, karena masih panjang perjuangan yang harus dijalani dalam tahun emas ini agar menjadi tahun emas yang gemilang.
Dalam kehidupan ini, kadang kita dihadapkan untuk mengambil keputusan yang sangat berat dalam memulai sesuatu proses pembaharuan. Keberanian dan kemauan serta tekad yang bulat untuk merupakan modal untuk membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan. Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Semoga makna “Eka Karya” tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih bagi seluruh keluarga Kebun Raya Indonesia yang abadi.
Akhirnya, kami atas nama keluarga besar Kebun Raya Indonesia, melalui media ini menyampaikan Selamat Merayakan Tahun Emas untuk Kebun Raya “Eka Karya “ Bali-LIPI. Semoga semua usaha dalam meraih cita-citanya selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Monday, August 24, 2009
Thursday, July 30, 2009
Tajuk Juni 2009
Berbicara mengenai hari lingkungan hidup yang jatuh di bulan Juni ini, telah mengingatkan kita akan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Namun Kenyataan telah banyak membuktikan bahwa kegiatan industrialisasi telah banyak menyebabkan kerusakan lingkungan, mulai hilangnya mata air, polusi udara, polusi suara dan berkurangnya vegetasi, degradasi keanekaragaman hayati.
Sebenarnya upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang kita miliki tidak hanya sebatas seminar, pameran dan sejenisnya dan bertumpu pada Pemerintah saja, karena hal tersebut biasanya hanya akan melahirkan perbedaan persepsi dalam pengelolaan sumber daya hayati, dimana pemerintah menganggap lebih berhak daripada masyarakat setempat sehingga kadangkala pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan nilai dan budaya setempat.
Sehingga Wajar jika para pakar di bidang keanekaragaman hayati membekali diri dengan pengetahuan yang memadai sehingga mereka bisa memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan agar paham betul kerugian di masa kini dan masa mendatang ketika mereka harus mengambil pilihan untuk merusak hutan lindung.
Akhirnya kami berharap semoga dalam sajian ini dapat memberikan inspirasi bagi kita semua untuk dapat berpartisipasi melestarikan kekayaan keanekaragaman hayati di bumi pertiwi ini melalui berbagai pemikiran dan metode yang dapat diimplementasikan.
Sebenarnya upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang kita miliki tidak hanya sebatas seminar, pameran dan sejenisnya dan bertumpu pada Pemerintah saja, karena hal tersebut biasanya hanya akan melahirkan perbedaan persepsi dalam pengelolaan sumber daya hayati, dimana pemerintah menganggap lebih berhak daripada masyarakat setempat sehingga kadangkala pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan nilai dan budaya setempat.
Sehingga Wajar jika para pakar di bidang keanekaragaman hayati membekali diri dengan pengetahuan yang memadai sehingga mereka bisa memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan agar paham betul kerugian di masa kini dan masa mendatang ketika mereka harus mengambil pilihan untuk merusak hutan lindung.
Akhirnya kami berharap semoga dalam sajian ini dapat memberikan inspirasi bagi kita semua untuk dapat berpartisipasi melestarikan kekayaan keanekaragaman hayati di bumi pertiwi ini melalui berbagai pemikiran dan metode yang dapat diimplementasikan.
Thursday, May 28, 2009
Tajuk Mei 2009
Pembaca yang budiman,
Waktu dan umur, ditentukan dari bagaimana kita berpikir, dan dari apa yang diperbuat. Hasilnya penandanya. Bagi para peneliti lahirnya KRB tidak berlebihan jika dikatakan sebagai penanda awal perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (11 April 1852), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).
Citra adalah dunia menurut persepsi kita. Adapun citra yang terbentuk dari sebuah lembaga merupakan realitas yang ditampilkan olehnya yang setara dengan opini publik. Kini Di usianya yang ke-192 KRB sedang berbenah diri untuk membenahi, membangun sistem administrasi satu persatu, menata kembali keindahanan dan kerapihan kebunnya yang telah tercemar oleh sampah dan tangan-tagan jahil yang tidak bertanggung jawab. Semua dilakukan ini dilakukan, mulai dari mulai kepingan yang terkecil yang sudah tak bisa terpegang oleh tangan hampa, harus dengn pinset atau alat sejenisnya, sampai kepingan terbesar yang masih bisa terpegang, semuanya dilakukan dengan telaten, agar dia bisa kembali seperti semula, meski kami yakin takkan sesempurna awalnya.
Mahalnya harga untuk menggapai Citra, maka Motivasi yang tinggi ini diterjemahkan dengan strategi yang matang lalu dilaksanakan dengan sinergi persaudaraan yang hakiki diantara civitas di semua bagian dan unit kerja.
Tidak ada ilmu pengetahuan tanpa bahasa. Begitu pentingnya bahasa, penggunaan bahasa berpengaruh terhadap konstruksi realitas dan makna yang dikandungnya, terlebih atas hasilnya:makna dan citra. Dalam momen ulang tahun kebun tercinta ini, kami berharap dapat turut memberikan kontribusi nyata dalam penyebaran informasi hasil penelitian dari KRB demi memujudkan cita-cita mulia menggapai citra lembaga. Dirgahayu kebunku, dirgahayu Kebun Raya Bogor ke-192.
Waktu dan umur, ditentukan dari bagaimana kita berpikir, dan dari apa yang diperbuat. Hasilnya penandanya. Bagi para peneliti lahirnya KRB tidak berlebihan jika dikatakan sebagai penanda awal perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (11 April 1852), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).
Citra adalah dunia menurut persepsi kita. Adapun citra yang terbentuk dari sebuah lembaga merupakan realitas yang ditampilkan olehnya yang setara dengan opini publik. Kini Di usianya yang ke-192 KRB sedang berbenah diri untuk membenahi, membangun sistem administrasi satu persatu, menata kembali keindahanan dan kerapihan kebunnya yang telah tercemar oleh sampah dan tangan-tagan jahil yang tidak bertanggung jawab. Semua dilakukan ini dilakukan, mulai dari mulai kepingan yang terkecil yang sudah tak bisa terpegang oleh tangan hampa, harus dengn pinset atau alat sejenisnya, sampai kepingan terbesar yang masih bisa terpegang, semuanya dilakukan dengan telaten, agar dia bisa kembali seperti semula, meski kami yakin takkan sesempurna awalnya.
Mahalnya harga untuk menggapai Citra, maka Motivasi yang tinggi ini diterjemahkan dengan strategi yang matang lalu dilaksanakan dengan sinergi persaudaraan yang hakiki diantara civitas di semua bagian dan unit kerja.
Tidak ada ilmu pengetahuan tanpa bahasa. Begitu pentingnya bahasa, penggunaan bahasa berpengaruh terhadap konstruksi realitas dan makna yang dikandungnya, terlebih atas hasilnya:makna dan citra. Dalam momen ulang tahun kebun tercinta ini, kami berharap dapat turut memberikan kontribusi nyata dalam penyebaran informasi hasil penelitian dari KRB demi memujudkan cita-cita mulia menggapai citra lembaga. Dirgahayu kebunku, dirgahayu Kebun Raya Bogor ke-192.
Subscribe to:
Posts (Atom)